Tuna Kaleng Tunggu Jepang Lebih Bersahabat

Kementerian Kelautan dan Perikanan mendorong Jepang untuk menghapus empat pos tarif tuna asal Indonesia guna memperluas sumber pasokan tuna bagi importir negara tersebut dengan harga bersaing sekaligus mendukung pemberantasan IUU Fishing dan perikanan berkelanjutan.

Rustam Agus
Apr 27, 2022 - 9:30 AM
A-
A+
Tuna Kaleng Tunggu Jepang Lebih Bersahabat

Ilustrasi produk tuna kaleng / Antara

jBisnis, JAKARTA - Upaya pemerintah menggenjot ekspor produk perikanan terus dirintis melalui pendekatan langsung ke negara mitra dagang terkait hambatan masuk baik berupa tarif maupun nontarif.

Salah satu produk perikanan yang potensial memperluas penetrasi ekspornya adalah tuna kaleng. Tahun lalu produk ini sudah bebas melenggang di pasar Eropa setelah otoritas Spanyol menghentikan pengawasan intensif atas dugaan kandungan berbahaya.

Kini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah mendorong agar Jepang dapat membebaskan tarif produk ikan tuna kaleng dari Indonesia yang masih dikenakan tarif bea masuk Most Favoured Nation (MFN).

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Perikanan KKP Artati Widiarti mengatakan dalam Public Private Dialogue Track 1.5 Indonesia-Jepang yang berlangsung di Jakarta, pihaknya menyinggung kembali soal pembebasan tarif bea masuk tersebut.

“Kami ingin produk tuna Indonesia khususnya tuna kaleng dibebaskan bea masuk seperti produk tuna dari Thailand maupun Filipina,” ujarnya.

Delegasi Indonesia pada pertemuan Public Private Dialogue Track 1.5 Indonesia-Jepang dipimpin oleh Deputi Bidang Kerja Sama Ekonomi Internasional Kemenko Perekonomian sementara Delegasi Jepang dipimpin oleh Vice Minister of Economy, Trade and Industry (METI). 

Pertemuan juga melibatkan sektor swasta, termasuk Kadin Indonesia, Keidanren, Jakarta Japan Club dan berbagai pihak pemangku kepentingan lainnya dalam perdagangan produk perikanan.
 
Menurut Artati, sejumlah keuntungan akan didapat oleh Jepang melalui penghapusan empat pos tarif tuna asal Indonesia, yaitu memperluas sumber pasokan tuna untuk importir negara tersebut dengan harga yang bersaing sekaligus mendukung pemberantasan IUU Fishing dan perikanan berkelanjutan.
 
Jika disimak, pembebasan tarif bea masuk tuna Indonesia telah dibahas dalam perundingan Indonesia Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) sejak tahun 2014.
 
Pada tahun 2018, Jepang menyampaikan akan membuka akses pasar untuk tuna kaleng Indonesia dengan syarat memperoleh perizinan atas operasi armada milik badan usaha joint venture (kongsi atau usaha gabungan) dari investasi Jepang.

Pasca pemberlakuan Omnibus Law dan peraturan pelaksanaannya, syarat yang diajukan Jepang secara otomatis terpenuhi. Untuk itulah KKP meminta otoritas Jepang untuk membuka akses pasar produk tuna kaleng Indonesia di negeri Sakura.

“Pada pertemuan ini, KKP minta dukungan dari METI dan Keidanren untuk mempertimbangkan penghapusan bea masuk ke Jepang untuk produk tuna kaleng Indonesia dengan menekankan keuntungan yang akan didapat oleh investor Jepang,” papar Artati.

Pengolahan ikan tuna / Antara

Dalam pertemuan tersebut turut dibahas pengembangan sumber daya manusia yang mendukung industri, konektivitas, teknologi digital, industri hijau dan rantai pasok global produk perikanan.
 
Terkait teknologi digital, KKP salah satunya telah memiliki aplikasi Laut Nusantara dengan teknologi pelacakan daerah penangkapan ikan melalui kemitraan dengan provider XL Axiata.

Pameran Osaka 

Sementara itu Indonesia meraup potensi transaksi sebesar US$60,76 juta pada pameran The 19th Seafood Show Osaka 2022 yang berlangsung 13-14 April 2022 di ATC Hall Osaka, Jepang.

Kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Dicky Farabi mengatakan permintaan transaksi terbesar berasal dari produk gurita beku, cumi-cumi, udang black tiger, anchovy, surimi, dan tuna sirip kuning.

“Produk-produk tersebut rencananya untuk pemenuhan pasar ritel seperti supermarket, restoran, kafe dan suplai untuk katering atau bento,” ujarnya.

Capaian tersebut, lanjut Dicky, masih dapat berkembang mengingat masih terdapat transaksi yang perlu ditindaklanjuti. Usai pameran, sampel produk yang ditampilkan di Paviliun Indonesia dikirim ke buyer potensial di wilayah Osaka dan sekitarnya.

“Melalui pengiriman tersebut diharapkan kerja sama peserta pameran dengan calon buyer potensial semakin mudah terjalin.”

Partisipasi Indonesia di pameran The 19th Seafood Show Osaka 2022 / Istimewa

Sebagai tidak lanjut pameran, Pemerintah Jepang memiliki aturan dalam hal importasi produk perikanan yaitu terkait kualitas dan keamanan, keberlanjutan, sertifikasi pihak ketiga, serta keterlacakan. 

“Syarat tersebut harus dipenuhi pelaku usaha perikanan dalam Indonesia,” kata Dicky.
 
 Jadi tingginya potensi transaksi yang diraih para peserta ini juga perlu diimbangi dengan menjaga stabilitas harga, kualitas, kontinuitas, dan kuantitas dari produk yang dihasilkan dengan memperhatikan persyaratan ekspor terkait mutu dan keberlanjutan

The 19th Seafood Show Osaka 2022 merupakan pameran produk perikanan terbesar di wilayah Jepang bagian barat (Kansai). Pameran ini diikuti sekitar 400 importir maupun retailer yang berdomisili di Jepang dan dihadiri sekitar 7.027 pengunjung.

Pada pameran ini Indonesia menjadi satu-satunya peserta dari luar Jepang. Pameran ini juga menjadi momentum Indonesia dalam menghadapi pelaksanaan World Expo Osaka 2025. Dalam pameran dunia tersebut, Pemerintah Jepang ingin mewujudkan destinasi halal dan ramah muslim.

Pada pameran ini, Paviliun Indonesia menempati lahan seluas 24 m2 atau 6 kali lebih luas dari keikutsertaan di tahun sebelumnya. Paviliun Indonesia menghadirkan sembilan perusahaan dari berbagai daerah di Indonesia.
 
 Perusahaan tersebut yakni PT Sriwijaya Karya Sejahtera, PT Edmar Mandiri Jaya, PT Bartuh Langgeng Abadi, PT Bali Maya Permai, PT Adipatria Samudra Lestari, PT Jawa Suisan Indah, CV Anugerah Artha Abadi, CV Giovanni Sukses Makmur, serta Pramesti Malima Energi Fokus Sejahtera.

Jepang merupakan salah satu negara konsumsi produk perikanan terbesar di dunia dengan total nilai impor lebih dari US$9,9 miliar per tahun. Menurut data Japan Fish Agency lebih dari 50 persen konsumen Jepang mengkonsumsi ikan setidaknya 2-3 kali seminggu.

Indonesia menduduki peringkat ke-5 sebagai negara asal impor produk perikanan dari benua Asia untuk Jepang setelah Tiongkok, Rusia, Vietnam, dan Korea. Sedangkan pasar utama ekspor produk perikanan Indonesia meliputi AS, China, Jepang, Asean dan Uni Eropa.

Berdasarkan HS 03, ekspor produk perikanan Indonesia menempati peringkat ke-11 dari total ekspor nonmigas Indonesia ke Jepang. Pada 2021, total ekspor sektor ini ke Jepang tercatat US433,8 juta atau meningkat 3,19 persen dibanding tahun sebelumnya dengan pangsa pasar 4 persen.

Editor: Rustam Agus
company-logo

Lanjutkan Membaca

Tuna Kaleng Tunggu Jepang Lebih Bersahabat

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ