UMKM Makin Andalkan Layanan Keuangan Digital

Pelaku UMKM makin mengandalkan bisnisnya dengan kemudahan yang ditawarkan layanan keuangan digital. Berikut penjelasannya.

Aziz Rahardyan

11 Nov 2021 - 14.02
A-
A+
 UMKM Makin Andalkan Layanan Keuangan Digital

Pelaku UMKM makin mengandalkan bisnisnya dengan kemudahan yang ditawarkan layanan keuangan digital. (Antara)

Bisnis, JAKARTA— Setidaknya hampir 30 persen pelaku UMKM di Indonesia menyatakan tak akan mampu melewati guncangan akibat pandemi Covid-19 sehingga menganggap solusi layanan keuangan digital begitu andal.

Hal itu terungkap dari hasil riset yang dilakukan Google, Temasek dan Bain & Company. Dalam laporan hasil riset bertajuk E-Conomy SEA 2021, Roaring 20s: The SEA Digital Decade, 28 persen pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi responden mengaku tanpa platform digital, mereka tak akan bertahan melewati tekanan ekonomi.

Di antara responden pun menyebut para pelaku UMKM menggunakan setidaknya dua platform digital untuk mengakses konsumen. Oleh karena itu, tak heran bila lebih dari 70 persen ingin meningkatkan penggunaan pembayaran dan remitansi daring dalam kurun waktu setahun hingga dua tahun ke depan.

Lalu, 47 persen responden mengaku ingin meningkatkan penggunaan layanan asuransi daring dan 37 persen memilih meningkatkan penggunaan pinjaman daring.

Tentunya potret data tersebut membuka peluang bisnis di lini teknologi finansial atau tekfin termasuk tekfin pemberi pinjaman makin lebar.

Peran industri tekfin pemberi pinjaman, menurut Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi Idris, tergolong vital.

Terutama, karena platform memiliki peran sebagai jembatan antara pendana (lender) perorangan maupun institusi, dengan para peminjam (borrower) di segmen yang belum tersentuh akses lembaga keuangan konvensional, tak tersentuh bank, sektor informal, dan UMKM.

"Akumulasi penyaluran fintech P2P lending ke sektor produktif sampai dengan Oktober 2021 telah mencapai Rp114,76 triliun atau mencapai 43,65 persen dari akumulasi penyaluran pembiayaan secara total. Hal ini memperlihatkan bahwa peran fintech untuk sektor produktif seperti UMKM memiliki potensi yang sangat besar," jelasnya.  

Wakil Pendiri dan Direktur Utama PT Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku) Reynold Wijaya mengatakan perusahaan fokus mengalirkan pinjaman kepada pelaku UMKM dengan bunga yang kompetitif.

"Modalku fokus untuk memberikan pinjaman pada segmen UMKM produktif, memberlakukan bunga pinjaman mulai dari 1 persen flat per bulan sampai dengan 3 persen flat per bulan. Artinya, maksimal hanya 0,1 persen flat per hari, masih sesuai dengan batas maksimal," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (11/11/2021). 

Reynold mengaku prihatin dengan munculnya korban atas kasus-kasus berkaitan pinjol ilegal beberapa waktu belakangan. Baik korban dari sisi peminjam yang ditipu dan mendapatkan teror penagihan, maupun korban dari sisi pendana yang pinjamannya macet sampai uangnya tidak kembali. 

Oleh sebab itu, perlu kolaborasi dari berbagai pihak untuk terus memberantas pemberi pinjaman online (pinjol) ilegal. Bagi calon lender, edukasi soal memilih platform fintech yang tepat harus terus digalakkan. Sementara bagi calon peminjam, perlu ditekankan bagaimana langkah bijak menggunakan fasilitas pinjaman online.

Reynold menjelaskan bahwa buktinya hingga kuartal III/2021, Grup Modalku terus bertumbuh dan mampu menyalurkan pinjaman lebih dari Rp26 triliun dari 4 juta transaksi pinjaman UMKM di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Terkhusus Indonesia, pinjaman Modalku telah mencapai Rp4,79 triliun ke 64.330 borrower sejak berdiri sampai Oktober 2021, dengan porsi Rp915,2 miliar khusus pinjaman di sepanjang 2021. 

Sementara itu, sisa outstanding dari platform yang identik dengan borrower di segmen pelaku usaha di situs dagang elektronik atau pegiat jual-beli online ini mencapai Rp174,2 miliar kepada 18.753 peminjam aktif. Adapun, tingkat keberhasilan pengembalian pinjaman 90 hari (TKB90) bertahan di 95,38 persen. 

"Selain itu, minat lender institusi terbukti tak luntur. Tahun ini Modalku dipercaya BCA, BRI Agro, serta Mayapada untuk menyalurkan dana ke UMKM," jelas Reynold.

Direktur Komersial Crowdo Indonesia, Daniel Silalahi mengatakan perusahaan mulai menjaring 50 perempuan pelaku usaha yang memenuhi syarat pembiayaan Crowdo pada akhir tahun. Sementara itu, target penyaluran Women Impact Fund diharapkan mencapai Rp300 miliar dalam setahun. 

Secara spesifik, Crowdo menargetkan perempuan pengusaha yang berasal dari wilayah demografis yang masih belum tersentuh oleh institusi keuangan khususnya pendanaan. 

Sekadar informasi, platform yang menargetkan penyaluran pinjaman di kisaran Rp1 triliun sejak berdiri ini bukan pertama kalinya melakukan upaya nilai tambah sebuah platform pinjol. 

Crowdo telah memperkuat posisinya sebagai platform manajemen transaksi bisnis yang bisa digunakan pelaku usaha untuk mendorong transformasi digital para pengguna. 

Mulai dari mengirim dan menerima invoice/PO secara digital, menerima pembayaran, sampai mengatur pemasok dan konsumen. Terbaru, Crowdo juga meluncurkan fitur yang mendukung digitalisasi pengelolaan rantai pasok.

"Pada dasarnya kami membuat solusi ini buat para peminjam, tetapi semua pelaku usaha bisa ikut menggunakan fitur ini. Harapannya, pelaku usaha Indonesia bisa keluar dari proses manual dalam segala transaksi usaha dan lebih profesional lewat digitalisasi bisnis," ungkap Daniel. 

Editor: Duwi Setiya Ariyant*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.