Utak-atik Strategi Memuluskan Investasi Mineral dan Batu Bara

Evaluasi regulasi hingga link and match bakal dilakukan untuk memuluskan alur investasi. Selain itu, sejumlah insentif juga akan digodok guna memuluskan masuknya investor, termasuk mempertemukan pelaku industri dan investor atau financial support.

Rayful Mudassir
Dec 26, 2021 - 2:30 PM
A-
A+
Utak-atik Strategi Memuluskan Investasi Mineral dan Batu Bara

Pekerja mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT. Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/3/2019)./ANTARA-Basri Marzuki

Bisnis, JAKARTA — Realisasi investasi pertambangan mineral dan batu bara berpotensi kembali turun pada tahun ini, bahkan menjadi yang paling rendah dalam 5 tahun terakhir. Pemerintah pun mulai mengatur strategi untuk mendongkrak investasi di subsektor tersebut pada 2022.

Direktur Penerimaan Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Muhammad Wafid mengatakan kementerian terus mengevaluasi kebijakan maupun aturan yang dianggap menghambat investasi pertambangan mineral dan batu bara (minerba).

Evaluasi regulasi hingga link and match bakal dilakukan untuk memuluskan alur investasi. Selain itu, sejumlah insentif juga akan digodok guna memuluskan masuknya investor, termasuk mempertemukan pelaku industri dan investor atau financial support.

Upaya itu dilakukan untuk menemukan permasalahan dalam investasi dan mencari solusi bersama. “Kami evaluasi terus terkait kebijakan regulasi dan peraturan yang dikeluarkan oleh [Ditjen] Minerba agar tidak menghambat investasi, termasuk insentif-insentif yang diperlukan dan juga mengadakan acara link and match antara industri dan pihak terkait,” katanya kepada Bisnis, Jumat (24/12/2021).

Berdasarkan data Minerba One Data Indonesia (MODI) yang kelola Ditjen Minerba Kementerian ESDM, realisasi investasi sub sektor mineral dan batu bara baru mencapai US$4,01 miliar hingga 26 Desember atau 93% dari target US$US$4,3 miliar. Dengan capaian ini, realisasi investasi Minerba 2021 berpotensi jadi yang paling rendah dalam 5 tahun terakhir.

Kementerian ESDM sejatinya masih memiliki waktu beberapa hari lagi sebelum pergantian tahun untuk menghimpun investasi hingga mencapai target yang direncanakan.

Salah satu yang mendapat perhatian adalah investasi pada proyek pembangunan smelter. Pemerintah menargetkan pembangunan sebanyak 53 smelter hingga 2024 mendatang. Saat ini baru terdapat 19 smelter yang telah berdiri dengan tambahan 4 smelter ditargetkan rampung pada akhir tahun.

Keempat smelter tersebut adalah milik PT Aneka Tambang Tbk. dengan progres 97,7%, PT Smelter Nikel Indonesia (100%), PT Cahaya Modern Metal Industri (100%), dan PT Kapuas Prima Citra dengan progres pengerjaan mencapai 99,87%.

Wafid menuturkan bahwa agenda link and match diperuntukkan agar masalah pendanaan seperti smelter dapat mencapai titik temu. “Agar jika ada kesulitan pendanaan seperti smelter dan lain-lain dapat dipertemukan dengan investor. Itu kerangka besarnya,” jelasnya.

Beberapa waktu lalu, saat rapat dengar pendapat antara Kementerian ESDM dan Komisi VII DPR RI, Dirjen Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin menyampaikan bahwa sejumlah perbankan maupun perusahaan di China dan Jepang tertarik menanamkan modal pada pembangunan smelter.

Dari Jepang, Kementerian ESDM menjaring tiga perusahaan yang ingin terlibat proyek smelter, yakni Sumitomo Metal, Mitsui, dan Toyota Tsusho. Mereka berencana menyuntikkan modal melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

“Setidaknya ada tiga perusahaan Jepang ini yang sudah menyampaikan minatnya untuk mendukung pendanaan pembangunan smelter,” katanya saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (10/11/2021).

Kemudian, dua perbankan disebut berpotensi dan menyatakan minatnya dalam pembangunan smelter, yakni Bank of China dan Japan Bank of International Corporation.

Di sisi lain, sejumlah institusi internasional telah dipastikan tidak berencana terlibat dalam proyek smelter, seperti Asian Development Bank, Asian Infrastructure Investment Bank, World Bank, dan International Finance Corporation.

“Di sini kami melihat perusahaan dan perbankan yang berminat. Kami juga berharap kiranya bank nasional dapat membantu pendanaan pembangunan smelter ini,” tuturnya.

Dari seluruh pembangunan smelter hingga 2024, imbuhnya, kebutuhan investasi pada proyek tersebut mencapai US$8 miliar.

Di sisi lain, Kementerian ESDM mencatat penerimaan negara bukan pajak (PNBP) minerba telah mencapai Rp70,05 triliun hingga 10 Desember 2021. Angka itu telah menembus 179,14% dari target sebelumnya sebesar Rp39,1 triliun.

Menurut Wafid, kenaikan harga batu bara menjadi kontributor terbesar dalam mendongkrak PNBP tahun ini, meskipun Kementerian juga turut berkontribusi dalam mendongkrak penerimaan tersebut.

“Kami mewajibkan seluruh wajib bayar untuk segera melunasi penerimaan negara bukan pajak sebagaimana kewajiban kepada negara,” tuturnya.

Salah satu kontributor terbesar penerimaan negara subsektor minerba adalah batu bara. Dari laporan pemerintah, produksi batu bara dalam negeri telah mencapai 560 juta ton atau 89,6% dari target 625 juta ton.

Lainnya, realisasi kebutuhan batu bara dalam negeri telah menembus 121,3 juta ton atau 88,2% dari target 137,5 juta ton.

SINYAL PENINGKATAN INVESTASI

Sementara itu, Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) memberi sinyal peningkatan nilai investasi untuk aktivitas eksplorasi tambang pada 2022.

Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia memperkirakan bujet investasi eksplorasi perusahaan tambang batu bara akan meningkat pada tahun depan. Meski begitu, dia tidak menyebutkan nilai investasi yang akan masuk.

“Tahun depan bujet investasi eksplorasi akan meningkat, tapi tidak terlalu signifikan,” katanya kepada Bisnis, Jumat (24/12/2022).

Gairah eksplorasi tersebut setidaknya dapat tecermin dari ramainya perusahaan tambang yang meningkatkan jumlah produksi batu bara pada 2022. Beberapa di antaranya adalah PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) dan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI).

Saat konferensi pers, PTBA telah menyampaikan rencana kenaikan produksi batu bara tahun depan. Sementara itu, perusahaan telah mematok produksi 30 juta ton pada 2021, atau naik sekitar 20% dari 2020 yang sebanyak 24,8 juta ton.

Hingga November 2021, realisasi produksi batu bara PTBA telah mencapai 28,0 juta ton dengan penjualan 25,8 juta ton. Artinya, perusahaan tinggal memproduksi sisa 2 juta ton untuk mencapai target sesuai RKAB 2021.

“Namun untuk angkanya belum bisa dibuka karena masih perlu persetujuan Kementerian ESDM,” kata Sekretaris Perusahaan PTBA Apollonius Andwie, Selasa (21/12/2021).

Sementara itu, BUMI masih optimistis kinerja 2022 akan makin baik, terlebih dengan harga batu bara yang tetap di posisi tinggi. BUMI meningkatkan target produksinya menjadi 90 juta metrik ton pada 2022.

Direktur Bumi Resources Sri Dharmayanti menjelaskan bahwa produksi batu bara tahun depan melalui Kaltim Prima Coal (KPC) dan Arutmin direncanakan sekitar masing-masing 61 juta ton dan 29 Juta ton.

“Jadi total 90 juta ton. Karena harga masih bertahan di atas US$100, perseroan akan menghasilkan keuntungan yang baik,” katanya dalam paparan publik, Selasa (14/12/2021).

Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar