Utang RI Sehat, tetapi Penuh Tantangan

Jika dilihat dari rasio terhadap pendapatan negara, rasio utang membubung tinggi melewati ekspektasi. Fitch menghitung rasio utang terhadap pendapatan negara akan naik menjadi 341 persen pada akhir 2021, jauh di atas median yang sebesar 253 persen.

Sri Mas Sari

23 Nov 2021 - 17.34
A-
A+
Utang RI Sehat, tetapi Penuh Tantangan

Sejumlah analis memperhatikan pergerakan kurva surat berharga di layar monitor komputer/Jibiphoto

Bisnis, JAKARTA – Meskipun mengganjar kembali rating utang Indonesia dengan peringkat BBB dengan outlook stabil, Fitch melihat masih ada beberapa tantangan yang membayangi, seperti ketergantungan terhadap pembiayaan eksternal yang tinggi dan penerimaan negara yang rendah.

Fitch melihat utang Indonesia masih sehat jika ditilik dari rasionya terhadap produk domestik bruto. Lembaga pemeringkat utama dunia itu memperkirakan utang akan mencapai 43,1 persen dari PDB pada akhir 2021, naik dari tingkat prapandemi sebesar 30,6 persen PDB pada 2019. Rasio ini masih jauh di bawah median kategori 'BBB' yang sebesar 60,3 persen. Kenaikan utang itu juga dialami oleh negara-negara lain sejalan dengan peningkatan belanja untuk menghadapi pandemi.

Fitch memprediksi rasio utang akan mencapai puncaknya pada 45,1 persen dari PDB pada 2022 sebelum menurun secara bertahap seiring dengan pertumbuhan PDB yang kuat dan kebijakan fiskal yang lebih ketat.

Namun, jika dilihat dari rasio terhadap pendapatan negara, rasio utang membubung tinggi melewati ekspektasi. Fitch menghitung rasio utang terhadap pendapatan negara akan naik menjadi 341 persen pada akhir 2021, jauh di atas median yang sebesar 253 persen.

“Tantangan lama untuk meningkatkan rasio pendapatan secara lebih signifikan tetap menjadi pandangan kami, termasuk untuk memperluas basis pajak dan meningkatkan kepatuhan,” tulis Fitch dalam laporan yang terbit Senin (22/11/2021).

Pendapatan negara yang rendah dan kepemilikan asing atas utang berdenominasi rupiah yang tinggi memperburuk tantangan pembiayaan defisit yang lebih tinggi meskipun Bank Indonesia ikut membeli surat berharga negara (SBN) melalui skema pembagian beban (burden sharing).  

Kementerian Keuangan dan BI baru-baru ini mengumumkan perpanjangan burden sharing dan pengaturan pembiayaan hingga 2022, yang sebelumnya telah mereka janjikan tidak akan diperpanjang melampaui tahun 2021. Pengaturan pembiayaan moneter termasuk private placement oleh BI sebesar 1,3 persen dari PDB pada 2021 dan 1,2 persen pada 2022 serta pembelian di pasar perdana jika dianggap perlu. Bank sentral membiayai sekitar 3 persen dari PDB pada 2020.

Namun, Fitch tidak menyarankan pembiayaan moneter ini dilakukan terus-menerus.

“Pembiayaan moneter yang berkepanjangan pada akhirnya dapat melemahkan kepercayaan investor dan membebani profil kredit Indonesia, terutama jika pasar negara berkembang berada di bawah tekanan karena kondisi likuiditas global yang makin ketat.”

Di sisi lain, Fitch memberikan proyeksi lebih positif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Setelah kasus Covid-19 mereda dari lonjakan tajam selama Juni hingga Agustus 2021, Fitch melihat ada potensi ekonomi Indonesia tahun ini tumbuh lebih tinggi daripada proyeksi mereka sebesar 3,2 persen, sejalan dengan perbaikan mobilitas masyarakat dan harga komoditas ekspor yang tinggi.

Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi diperkirakan 6,8 persen pada 2022 dan dalam beberapa tahun berikutnya tetap tumbuh pada kisaran 6 persen, antara lain didukung oleh dampak positif dari implementasi UU Cipta Kerja terhadap kenaikan investasi.

Dari sisi fiskal, penerapan UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) diharapkan dapat mendukung upaya mengembalikan defisit fiskal ke bawah 3 persen dari PDB pada 2023. Sejalan dengan itu, Fitch memperkirakan defisit fiskal mencapai 5,4 persen pada 2021 dan turun menjadi 4,5 persen pada 2022, lebih rendah daripada target pemerintah sebesar 5,8 persen pada 2021 dan 4,9 persen pada 2022 yang belum memasukkan dampak penerapan UU HPP.

Fitch juga menilai ketahanan eksternal Indonesia membaik, antara lain terlihat dari kenaikan cadangan devisa dan arus masuk penanaman modal asing (PMA) serta dukungan kerja sama swap line dengan bank sentral lain. Hal ini juga didukung oleh laju inflasi yang diperkirakan tetap berada dalam kisaran target 2-4 persen, sejalan dengan tekanan permintaan domestik yang masih belum kuat dan dampak dari kenaikan harga minyak internasional terhadap harga jual bahan bakar di dalam negeri yang terbatas.

Namun, Indonesia dipandang masih rentan terhadap perubahan sentimen investor mengingat ketergantungan yang tinggi pada arus masuk portofolio dan ekspor komoditas.

Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, afirmasi Fitch tentang peringkat BBB utang Indonesia menunjukkan lembaga pemeringkat utama dunia itu mengakui stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia yang tetap terjaga serta prospek ekonomi jangka menengah yang tetap kuat di tengah perbaikan ekonomi global yang tidak merata dan ketidakpastian pasar keuangan global. Stabilitas ini dicapai berkat kredibilitas kebijakan dan sinergi bauran kebijakan yang kuat antara BI dan pemerintah. Ke depan,

“Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik, mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta terus bersinergi dengan Pemerintah untuk mempercepat proses pemulihan ekonomi nasional,” ujar Perry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Sri Mas Sari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.