Varian Covid-19 Omicron Bawa Harga Emas Menguat

Harga emas menguat akibat merebaknya varian Covid-19, Omicron. Simak penjelasannya.

Duwi Setiya Ariyanti

30 Nov 2021 - 16.47
A-
A+
Varian Covid-19 Omicron Bawa Harga Emas Menguat

Harga emas menguat akibat merebaknya varian Covid-19, Omicron. (Antara)

Bisnis, JAKARTA— Harga emas menguat pada perdagangan hari ini merespons merebaknya varian baru Covid-19 yakni Omicron yang menekan kinerja dolar Amerika Serikat (AS) dan obligasi pemerintahnya.

Dikutip dari Markets Insider, Selasa (30/11/2021) pukul 16:27 WIB, harga emas menyentuh US$1.795,6 per troy ounce atau naik 0,62 persen secara harian. Kendati menguat, harga emas belum mampu melewati level psikologisnya yakni US$1.800.

Tim Analis Monex Investindo Futures dalam hasil risetnya menyebut bahwa harga emas memanfaatkan momen melemahnya dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Dengan demikian, harga emas diperkirakan bergerak pada level support US$1.789 per troy ounce hingga US$1.782 per troy ounce. Sementara itu, pergerakan pada level resistance diperkirakan pada rentang US$1.797 per troy ounce hingga US$1.805 per troy ounce.

“Pasar yang kembali mengkhawatirkan covid omicron berpeluang memicu kenaikan harga emas.”

Lebih lanjut, analis Monex Investindo Futures, Faisyal menyebut peluang penguatan emas terbuka karena Gubernur Bank Sentral AS, Jerome Powell bernada pesimistis. Pasalnya, Powell menyebut penyebaran varian Omicron dan kenaikan kasus Covid-19 bisa menghambat pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam. Selain itu, prospek inflasi menjadi buram karena tingginya ketidakpastian.

Menariknya, hari ini, pelaku pasar masih menantikan pernyataan Jerome Powell dan Menteri Keuangan AS, Janet Yellen.

“Jika data dan pidato dari mereka hasilnya optimis berpeluang memicu penurunan harga emas. Begitupun sebaliknya.”

Keduanya akan berbicara di hadapan Kongres terkait dengan peraturan bantuan ekonomi pada Maret 2020 untuk mempertebal program pinjaman darurat bank sentral.

Adapun, pada perdagangan hari ini, pelaku pasar memperhatikan sejumlah acara dan rilis data. Rencananya, AS merilis indeks harga hunian periode bulanan pada pukul 21:00 WIB. Lalu, dilanjutkan dengan rilis indeks manufaktur atau Purchasing Manager’s Index (PMI) Chicago pada 21:45 WIB.

Dilanjutkan dengan agenda pendapat dari Jerome Powell, rilis kepercayaan diri konsumen dan Janet Yellen pada pukul 22:00 WIB. Terakhir, pernyataan dari bank sentral New York dan San Francisco pada pukul 22:30 WIB dan 01:00 WIB dini hari secara berturut-turut.

Berbeda dengan kondisi pasar pada Jumat (26/11/2021) saat kabar varian Omicron pertama kali muncul, kali ini pasar relatif lebih tenang sehingga aset berisiko kembali dilirik.

"Kenyataan situasinya, dengan ekuitas yang bangkit kembali sekarang dan jenis emas yang datar, orang-orang beralih ke aset-aset berisiko," ujar Ahli Strategi Pasar Senior RJO Futures, Bob Haberkorn seperti dikutip dari Antara.

Para pelaku pasar memproyeksi bahwa bank sentral AS bakal memperketat kebijakan moneter sehingga ruang kepemilikan emas sebagai aset aman menjadi terbatas.

Di sisi lain, bila pengetatan moneter tertunda, pelaku pasar masih mengkhawatirkan inflasi yang terus naik. Dengan demikian, saat inflasi tinggi, imbal hasil yang ditawarkan emas tak lagi menarik.

Namun, bila ketidakpastian meningkat, harga komoditas termasuk emas bakal mengikuti.

“Pasar akan terus diperdagangkan dengan ketidakpastian. Itu tidak hanya akan berdampak pada beberapa pasar yang bergantung pada permintaan, seperti energi dan logam dan pasar saham, tetapi juga emas," analis Saxo Bank, Ole Hansen.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Duwi Setiya Ariyant*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.