Vincent Van Gogh, Sang Maestro Penjemput Ajal di Ujung Revolver

Van Gogh menjemput ajal bukan sebagai seniman yang sukses. Namun kini, sekitar 131 tahun setelah kematiannya, lukisan-lukisan van Gogh berharga fantastis.

Saeno

12 Nov 2021 - 19.52
A-
A+
Vincent Van Gogh, Sang Maestro Penjemput Ajal di Ujung Revolver

Tangkapan layar - Lukisan cat air karya Van Gogh berjudul Meules de blé (Tumpukan Gandum) menggambarkan seorang petani perempuan yang sedang bekerja di ladang di Arles, Prancis. Lukisan yang pernah disita Nazi ini terjual dengan harga di atas perkiraan semula./christies.com

Bisnis, JAKARTA - Lukisan karya Vincent van Gogh mencatatkan harga yang fenomenal dalam lelang yang digelar di balai lelang ternama, Christie's.

Dibuka dengan harga perkiraanUS$ 20.000,000 hingga US$ 30.000.000 karya sang maestro lukis asal Belanda itu terjual dengan harga US$35.,855.000.
 
Harga yang fantastis itu menunjukkan tingginya nilai lukisan yang pernah disita pasukan Nazi Jerman tersebut.
 
Lukisan cat air karya van Gogh berjudul Meules de blé atau Tumpukan Gandum tersebut menggambarkan seorang petani perempuan yang sedang bekerja di ladang di Arles, Prancis. Lukisan senilai Rp509 miliar itu  menambah daftar peninggalan sang impresionis yang dikenal dengan akhir hidupnya yang buram.

Meules de blé diperkirakan dibuat pada tahun 1888. Lukisan itu terakhir kali dipamerkan pada tahun 1905.  Adapun, Arles, Prancis, adalah tempat Van Gogh tinggal selama lebih dari satu tahun pada 1880-an. 

Tidak seperti karyanya yang paling terkenal, yang dilukis dengan minyak, Meules de blé dieksekusi dengan cat air, kuas, pena dan tinta di atas kertas.

Karya itu awalnya dimiliki Theo van Gogh, saudara Vincent van Gogh, setelah kematian sang pelukis pada usia 37. Setelah melewati beberapa pasang tangan, lukisan itu direbut pasukan Nazi selama pendudukan mereka di Prancis pada tahun 1940-an.

Setelah perang, keberadaan lukisan itu tidak jelas sampai tahun 1970-an. Lukisan itu dalam kepemilikan pribadi sampai Christie's membeli karya itu melalui penyelesaian dengan kolektor dan ahli waris dari pemilik aslinya, demikian dilansir canberratimes.com.au.

Diminati Kolektor, Diincar Pencuri 

Lukisan karya van Gogh sudah menjadi barang mahal dunia. Tidak mengherankan jika karya sang maestro sangat diminati kolektor sekaligus menjadi incaran pencuri.

Salah satu lukisan karya Vincent van Gogh bertahun 1884 yang berjudul Parsonage Garden at Nuenen in Spring atau Taman Rumah Pendeta di Nuenen pada Musim Semi atau Taman Musim Semi dicuri pada Senin (30/3/2020).

Lukisan berjudul Parsonage Garden at Nuenen in Spring yang dinyatakan hilang dicuri/wikipedia.

Lukisan awal van Gogh yang menggunakan cat minyak itu dicuri dari salah satu museum di Belanda. Dibuat pada Mei 1884 ketika Van Gogh tinggal bersama orang tuanya di Nuenen, lukisan tersebut dipinjamkan ke museum Singer Laren yang berlokasi di Amsterdam, Belanda. Lukisan ini adalah bagian dari koleksi permanen milik Museum Groninger sejak 1962.

Menurut pernyataan resmi museum Singer Laren, lukisan tersebut sedang ditampilkan dalam pameran bertajuk Mirror of the Soul, yang menampilkan lebih dari 70 lukisan seniman Belanda dari abad ke-19.

Direktur museum Jan Rudolph de Lorm mengatakan saat itu museum sedang ditutup untuk sementara sejak 12 Maret 2020 sebagai bagian dari langkah pembatasan kegiatan publik di tengah pandemi virus Corona. Uniknya, hari hilangnya lukisan ini merupakan hari jadi van Gogh yang ke-167.

“Saya terkejut dan benar-benar marah atas kejadian ini,” ujar de Lorm, seperti dikutip melalui keterangan resmi dari situs web Museum Singer Laren.

Dia menegaskan bahwa seni ada untuk dilihat dan dibagikan kepada khalayak ramai.

“Buah dari kreativitas semacam ini ada untuk dinikmati, untuk memunculkan inspirasi dan sebagai pelipur lara terutama di tengah masa sulit seperti ini,” tuturnya.

Lukisan ini merupakan satu dari 200 karya awal van Gogh yang dia buat selama 2 tahun tinggal bersama orang tuanya di kota Nuenen. Parsonage Garden at Nuenen in Spring menggambarkan pemandangan taman dengan sosok wanita berpakaian gelap.

Di kejauhan terdapat puing-puing gereja tua, yang juga digambarkan dalam karya van Gogh yang lain seperti Old Church Tower at Nuenen (1884). Parsonage Garden juga beberapa kali menjadi latar lukisan van Gogh yang dia kerjakan dalam kurun waktu 1884-1885.

Dengan palet hijau gelap dan cokelat, khas karya awal van Gogh, serta beberapa sentuhan corak hijau dan merah, lukisan ini menunjukkan bahwa musim dingin telah berlalu dan musim semi dimulai.

Seperti dilansir Guardian, Arthur Brandt, seorang detektif seni, mengatakan kepada surat kabar Algemeen Dagblad bahwa karya seni yang kini hilang tersebut bernilai hingga 6 juta euro. Namun, harganya mungkin lebih tinggi dari perkiraan.

Lukisan van Gogh berjudul Pemakan Kentang (1885). /Wikipedia/Museum Van Gogh, Amsterdam

Karya lain dari van Gogh yang dibuat ketika dia tinggal di Nuenen, baru-baru ini terjual sekitar senilai 10 juta poundsterling pada sebuah pelelangan di Belanda.

Ini bukan pertama kalinya karya van Gogh hilang dicuri, setidaknya dalam beberapa dekade terakhir. Pada Desember 1988, pencuri mengambil tiga lukisan, termasuk versi awal lukisan The Potato Eaters (1885), yang merupakan karya besar pertama van Gogh, dari Museum Nasional Kroeller-Mueller di Otterlo.

Lukisan-lukisan itu ditemukan polisi setelah pencuri berusaha mendapatkan uang tebusan.

 

Van Gogh, Potret Diri (1887)/Art Institute of Chicago-wikipedia

Pada Mei 1988, tiga karya van Gogh, termasuk di antaranya Carnation dicuri dari Museum Stedelijk, yang bersebelahan dengan Museum Van Gogh di Amsterdam.

Lukisan-lukisan itu pada akhirnya ditemukan dalam sebuah operasi penyamaran.

Pada 1991, pencuri berhasil kabur dengan 20 karya dari Museum van Gogh Amsterdam yang semuanya bernilai sekitar US$500 juta.

Seorang perampok bersembunyi di museum hingga larut, kemudian membiarkan kaki tangannya masuk ke area pameran. Meski demikian, rencana pencurian ini berhasil digagalkan hanya sekitar setengah jam setelah mobil yang digunakan untuk membawa kabur hasil curian mengalami kempes ban.

Para pencuri akhirnya melarikan diri dan meninggalkan jarahan mereka. Hasil jarahan termasuk versi terakhir dari The Potato Eaters (1885) dan Wheatfield With Crows yang selesai dikerjakan di Auvers-sur-Oise, Paris, pada Juli 1890, hanya beberapa hari sebelum van Gogh bunuh diri.

Pencurian lukisan lain yang berhasil dipecahkan terjadi pada 2016, ketika kepolisian Italia menemukan dua lukisan van Gogh yang hilang dan ditaksir bernilai lebih dari US$50 juta, di sebuah rumah di selatan Napoli yang diduga milik penyelundup narkoba.

Lukisan Seascape at Scheveningen (1882) dan Congregation Leaving the Reformed Chuch in Nuenen (1884/1885), ditemukan setelah 14 tahun dilaporkan hilang dari Museum van Gogh di Amsterdam.

Secara keseluruhan, van Gogh diyakini telah menghasilkan sekitar 1.000 lukisan dan setidaknya 1.000 gambar antara 1884, ketika dia mulai menjadi seniman yang serius, hingga 1890, saat dia meninggal pada usia 37.

Beberapa lukisan di Amsterdam berasal dari hari-hari van Gogh di Belanda yang suram. Baru setelah pindah ke Prancis pada Februari 1886, van Gogh mulai melukis dengan gaya bersemangat yang mendongkrak harga di ruang lelang.

Seniman yang Tersiksa

Dikutip dari wikipedia, Vincent Willem van Gogh yang lahir pada 30 Maret 1853 dan meninggal pada 29 Juli 1890 adalah seorang pelukis pascaimpresionis Belanda. DIa menjadi salah satu tokoh paling terkenal dan berpengaruh dalam sejarah seni di Barat.

Lebih dari satu dasawarsa, van Gogh menciptakan kurang lebih 2.100 karya seni, termasuk sekitar 860 lukisan minyak yang kebanyakan dibuat selama dua tahun terakhir kehidupannya.

Karya-karya tersebut meliputi lukisan bentang alam, alam benda, potret, dan potret diri.

Lukisan van Gogh memiliki ciri khas berupa warna yang tebal dan dramatis serta goresan kuas yang impulsif dan ekspresif.

Pada masa kecilnya, putra sulung dari keluarga menengah atas ini merupakan seorang anak yang serius, pendiam dan penuh gagasan. Semasa muda van Gogh sempat menjadi pedagang seni dan sering berkelana. Namun, dia mengalami depresi setelah dipindah ke London.

Foto arsip - Pistol yang diyakini digunakan Vincent Van Gogh untuk bunuh diri di Auvers-sur-Oise, Prancis pada 27 Juli 1890, ditampilkan di rumah lelang Drouot di Paris, Senin (14/6/2019)./Reuters-Charles Platiau

Van Gogh beralih ke bidang agama dan menjalani waktunya sebagai seorang misionaris Protestan di Belgia Selatan.

Dia terombang ambing di tengah sakit dan kesendirian sebelum akhirnya mulai melukis pada 1881 setelah kembali ke rumah orang tuanya. Saat itu, van Gogh mendapatkan bantuan keuangan dan emosional dari adiknya yang bernama Theo.

Mereka berdua menjalin komunikasi jangka panjang melalui surat-menyurat. Lukisan-lukisannya menjadi lebih cerah dan akhirnya gaya baru ini terbentuk secara utuh pada masa dia berada di Arles di Prancis Selatan pada 1888.

Pada masa itu pula dia memperluas cakupan subjek-subjeknya, termasuk sejumlah lukisan pohon zaitun, ladang gandum, dan bunga matahari.

Van Gogh mengalami psikosis dan waham. Walaupun khawatir dengan kondisi kejiwaannya, van Gogh sering mengabaikan kesehatan fisiknya. Dia tidak makan dengan benar, malah banyak minum alkohol.

Pertengkaran dengan Gauguin, yang mengakhir persahabatn kedua orang itu, membuat van Gogh memotong kuping kirinya sendiri. Dia lalu secara sukarela masuk ke rumah sakit jiwa di Saint-Rémy pada 8 Mei 1889.

Setahun kemudian, dia memutuskan keluar dan pindah ke Auberge Ravoux di Auvers-sur-Oise di dekat Paris. Di tempat barunya, van Gogh dirawat seorang dokter homeopati bernama Paul Gachet.

Homeopati adalah pengobatan alternatif yang diciptakan Samuel Hahnemann pada abad ke-18. Teori dasar homeopati adalah bahwa orang sakit dapat disembuhkan dengan menggunakan efek pantulan substansi yang menghasilkan gejala sakit pada orang sehat.

Depresi van Gogh berlanjut. Akhirnya dia Gogh mengakhiri penderitaanya dengan menembak dadanya sendiri menggunakan pistol revolver pada 27 Juli 1890.

Van Gogh menjemput ajal bukan sebagai seniman yang sukses. Namun kini, sekitar 131 tahun setelah kematiannya, lukisan-lukisan van Gogh berharga fantastis. (Mia Chitra Dinisari, Nirmala Aninda, Roni Yunianto)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Saeno

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.