Waktunya Pilih-pilih Saham Royal Dividen

Sejumlah saham dikenal royal membagikan dividen kepada investornya. Simak deretan saham yang mampu memberikan dividen jumbo.

Pandu Gumilar
Dec 26, 2021 - 10:30 AM
A-
A+
Waktunya Pilih-pilih Saham Royal Dividen

Sejumlah saham dikenal royal membagikan dividen kepada investornya. (Bisnis/Himawan L. Nugraha)

Bisnis, JAKARTA— Jelang tutup tahun 2021, Anda bisa menilik sejumlah saham yang terkenal royal membagikan dividen jumbo kepada para pemegang saham. Berikut rekomendasi sahamnya. 

Selama tahun berjalan indeks High Dividend 20 baru tumbuh 5,05 persen atau lebih rendah dari pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menyentuh 9,76 persen. Pertumbuhan yang lebih rendah itu bisa dimanfaatkan sebagai celah bagi Anda untuk mengoleksi sejumlah saham yang royal membagi dividen, penghuni indeks High Dividend 20.
 
Adapun indeks yang memuat emiten dengan rekam jejak pemberian dividen terbesar itu dibuka pada level 455,19. Sampai dengan tanggal 24 Desember, indeks tersebut ditutup pada level 468,56.
 
Hal tersebut jauh berbeda jika dibandingkan dengan indeks SMC Composite yang telah tumbuh 27,78 persen padahal, indeks tersebut hanya memuat emiten-emiten yang memiliki kapitalisasi kecil dan menengah.
 
Kepala Riset Pasar Saham Infovesta Utama, Wawan Hendrayana menjagokan tiga emiten bank. Ketiganya yaitu, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI).
 
Selama tahun berjalan ketiganya telah mengalami penguatan dan menjadi penopang pertumbuhan indeks. BBCA sebesar 9,71 persen, sedangkan BBNI 8,52 persen dan BBRI meningkat 3,21 persen. Masing-masing price earning (PE) perseroan terpantau di level 29,09 kali, 12,14 kali dan 24,07 kali.
 
"Saham yang saya sukai [dalam indeks tersebut adalah] saham perbankan seperti BBCA, BBNI, dan BBRI," katanya kepada Bisnis baru-baru ini.
 
Wawan menambahkan emiten yang masuk indeks tersebut umumnya akan membagi laba bersih sepanjang masih mendapatkan profit. Untuk nominal dividen yang dibagi, umumnya mengacu pada pendapatan masing-masing emiten.
 
Berkaca dari laporan keuangan kuartal III/2021, pendapatan operasional BBCA tercatat Rp57,6 triliun atau naik 3,1 persen secara tahunan. Sementara itu, laba bersih  Rp23,2 triliun atau tumbuh 15,8 persen secara tahunan, ditopang oleh penurunan biaya operasional dan biaya provisi kredit yang lebih rendah.
 
Adapun, BBNI mencetak kinerja solid yang tecermin pada perolehan laba mencapai Rp7,7 triliun sepanjang periode Januari-September 2021, atau tumbuh 73,9 persen secara tahunan. D sisi lain, BBRI berhasil mencatatkan laba bersih senilai Rp 19,07 atau melesat 34,74 persen. dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
 
Wawan menambahkan terkait pandemi terdapat beberapa emiten yang mengalami penurunan pendapatan. Oleh karena itu, dividen yang dibagikan bisa saja lebih rendah. Meski demikian, dia mengingatkan investor agar mengutamakan faktor fundamental daripada kemampuan emiten membagikan dividen. 


"Valuasi rendah, seperti PE yang rendah umumnya adalah cermin dari ekspektasi pendapatan emiten di masa datang oleh investor, jadi tetap fokus pada fundamental dan prospek bisnis masing-masing emiten baru melihat valuasi," ungkapnya.
 
Dia menyebut tahun depan merupakan momen pemulihan ekonomi yang bisa mendorong kinerja IHSG. Dengan demikian baik IHSG maupun indeks High Dividend 20 memiliki peluang menguat. Dia memproyeksi IHSG bisa bergerak pada rentang 7.400 hingga 7.500. 

"Jadi untuk indeks High Dividend juga besar kemungkinan menguat karena memang isi sahamnya beberapa merupakan penggerak bursa," tuturnya.

Editor: Duwi Setiya Ariyanti
Anda belum memiliki akses untuk melihat konten

Untuk melanjutkannya, silahkan Login Di Sini