Waspada dalam Euforia

Ada kecenderungan transaksi investasi yang bakal lesu selama Ramadan dan Idulfitri. Hal ini tecermin dari rata-rata nilai transaksi harian di pasar saham yang masih berada di bawah target.

Redaksi

15 Mar 2024 - 09.09
A-
A+
Waspada dalam Euforia

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 13 miliar saham telah beredar dengan nilai Rp10,9 triliun yang dibukukan dari total 1,27 juta transaksi. - Foto Bisnis.com

Bisnis, JAKARTA—Suasana lantai bursa pada sesi perdagangan sejak Rabu (13/3/2024) sampai kemarin, benar-benar luar biasa. Indeks harga saham gabungan alias IHSG berulangkali menembus rekor tertinggi di tengah gerak bursa Asia yang berfluktuasi.

Gerak IHSG bahkan sempat menembus all time high (ATH) sebelum ditutup di posisi 7.433,31, kemarin. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di level 7.380—7.454. Gairah panas IHSG mendorong saham-saham emiten turut menghijau.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 13 miliar saham telah beredar dengan nilai Rp10,9 triliun yang dibukukan dari total 1,27 juta transaksi. Kinerja IHSG ditopang oleh 284 saham naik, 247 saham turun, dan 393 stagnan.

Di tengah kegembiraan pasar finansial yang bersejarah, dengan IHSG yang menembus angka psikologis 7.436, mata uang kripto Bitcoin juga mencapai puncak baru di level US$72.000 sekeping. Adakah komoditas lain yang berseri-seri?

Tentu. Harga emas juga melewati batas US$2.206 per troy ounce. Semua senang berada dalam pasar yang volatile.

Namun, di balik euforia itu, para investor sesungguhnya dihadapkan pada dinamika pasar yang menantang. Maksudnya, fenomena ini tidak hanya menandakan optimisme investor terhadap aset-aset tersebut, tetapi juga menggambarkan kondisi pasar global yang dinamis dan penuh likuiditas.

Kenaikan semua instrumen dan komoditas tersebut terjadi bersamaan dengan tibanya Ramadan dan momentum menghadapi Idulfitri, suatu periode yang secara historis membuat investor membutuhkan likuiditas tinggi untuk memenuhi peningkatan konsumsi dan kebutuhan sosial.

Penawaran SBN ritel seri SR020 juga menjadi titik fokus prospeknya instrumen karena SBN menawarkan alternatif investasi bagi mereka yang mencari keamanan di tengah volatilitas pasar seperti sekarang.

Kenaikan jumlah uang beredar di Indonesia, yang mencapai Rp1.051,68 triliun atau naik 9,21% pada Januari 2024 (year-on-year/YoY), menandakan konsumen dan pemerintah, siap tidak siap, akan menghadapi musim belanja besar-besaran dengan harga yang ikut melambung tinggi di kelompok sembako.

Sebagai respons, Bank Indonesia telah menyiapkan dana sebesar Rp260 triliun untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan likuiditas selama periode pemilu dan Lebaran.

Namun, Harian ini menilai ada kecenderungan transaksi investasi yang bakal lesu selama Ramadan dan Idulfitri. Hal ini tecermin dari rata-rata nilai transaksi harian di pasar saham yang masih berada di bawah target.

Di tengah kondisi pasar yang euforia, investor tetap perlu menggunakan akal sehat dan tidak didikte emosi. Salah satunya dengan menerapkan strategi yang seimbang antara ekspansi dan konservasi. Diversifikasi portofolio menjadi kunci, tidak hanya di antara kelas aset yang berbeda tetapi juga dalam aset yang sama untuk menyeimbangkan risiko dan imbal hasil.

Menimbang fenomena kenaikan IHSG di atas, potensi emas sebagai lindung nilai, dan volatilitas Bitcoin, investor sebaiknya perlu mempertimbangkan komposisi aset yang adaptif terhadap perubahan pasar.

Di tengah tren transaksi yang cenderung lesu selama Ramadan dan Idulfitri, serta antisipasi Bank Indonesia dalam menyiapkan dana untuk mengatasi kebutuhan tersebut, investor ritel mungkin akan menemukan peluang untuk mengakumulasi aset pada harga yang lebih menarik.

Kinerja aset ke depannya akan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan moneter The Fed, dinamika pasar global, serta kondisi ekonomi domestik yang dipengaruhi oleh konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri.

Proyeksi penurunan suku bunga acuan The Fed pada paruh kedua 2024 dapat memberikan dorongan bagi likuiditas pasar dan memicu apresiasi lebih lanjut pada aset-aset berisiko. Namun, investor juga harus waspada terhadap risiko koreksi yang mungkin terjadi sebagai respons terhadap penyesuaian pasar atau perubahan kebijakan moneter yang tidak terduga.

Oleh karena itu, strategi jangka panjang dengan fokus pada kualitas aset dan diversifikasi menjadi sangat penting.

Pada intinya, pendekatan yang berhati-hati di tengah euforia pasar dan tetap proaktif akan memungkinkan investor memanfaatkan peluang sekaligus meminimalkan risiko.

Diversifikasi, analisis mendalam, dan pemahaman yang kuat tentang dinamika pasar selalu menjadi kunci sukses dalam investasi pada periode yang penuh tantangan ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Redaksi

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.