Waspada Pinjol Ilegal, Fintech P2P Lending Jadi Alternatif

Meskipun keduanya merupakan layanan keuangan digital, terdapat perbedaan signifikan antara fintech P2P lending dan pinjol.

Redaksi

22 Feb 2024 - 11.00
A-
A+
Waspada Pinjol Ilegal, Fintech P2P Lending Jadi Alternatif

Bisnis, JAKARTA — Pinjaman online (pinjol) ilegal menjadi biang keladi permasalahan finansial masyarakat Indonesia pada satu dekade ke belakang. Gaya hidup konsumtif yang merebak di masyarakat seakan dipuaskan oleh kehadiran pinjol yang memberikan kemudahan dana cepat.

Mirisnya, banyak masyarakat Indonesia dengan kebiasaan meminjam uang tidak dibarengi kesiapan finansial, sehingga mereka kesulitan membayar dan harus terjerat pinjol.

Layanan keuangan digital lain yang turut menarik perhatian adalah Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (LPMUBTI) atau financial technology peer-to-peer lending (fintech P2P lending).

 

Fintech P2P Lending

Meskipun keduanya merupakan layanan keuangan digital, terdapat perbedaan signifikan antara fintech P2P lending dan pinjol.

Menurut Peraturan OJK No.77/POJK.01/2016, fintech P2P lending adalah layanan pinjam meminjam uang dalam mata uang rupiah secara langsung antara pemberi pinjaman (kreditur) dan penerima pinjaman (debitur) berbasis teknologi informasi.

Sampai dengan 9 Oktober 2023, penyelenggara fintech P2P lending atau fintech lending yang berizin di OJK berjumlah 101 perusahaan.

 

Perbedaan Pinjol dengan Fintech P2P Lending

Pinjol merujuk pada layanan pinjaman yang memungkinkan diakses secara online saja. Umumnya, pinjol menawarkan pinjaman kecil dengan persyaratan longgar, dan proses persetujuannya yang cepat. Hal itulah yang menjadi daya tarik pinjol di mata masyarakat.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa bunga pinjaman dari pinjol cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan lembaga keuangan tradisional atau fintech P2P lending.

Hal ini dikarenakan risiko yang diambil oleh penyedia pinjaman online serta kecepatan proses persetujuan yang mereka tawarkan.


Sementara itu, fintech P2P lending bertindak sebagai perantara antara debitur dan kreditur tanpa melibatkan lembaga keuangan tradisional. Di platform ini, individu atau bisnis kecil yang membutuhkan pinjaman dapat terhubung langsung dengan pemberi pinjaman.

Kelebihannya, fintech P2P lending melibatkan biaya yang sering kali lebih rendah dibandingkan dengan lembaga keuangan tradisional.

Cara kerja fintech P2P lending adalah sebagai berikut :

1. Registrasi. Pengguna harus melakukan registrasi secara online melalui komputer atau handphone.

2. Borrower (peminjam) melakukan pengajuan pinjaman.

3. Platform P2P lending menganalisa dan memilih borrower layak untuk mengajukan pinjaman, termasuk menetapkan tingkat risiko borrower tersebut.

4. Borrower terpilih akan ditempatkan oleh platform P2P lending dalam marketplace P2P lending secara online beserta dengan informasi komprehensif tentang profil dan risiko borrower tersebut.

5. Investor P2P lending melakukan analisa dan seleksi atas borrower yang tercantum dalam marketplace P2P lending yang disediakan oleh platform.

6. Investor P2P lending melakukan pendanaan ke borrower yang dipilih melalui platform P2P lending.

7. Borrower mengembalikan pinjaman beserta bunga atau imbal hasilnya sesuai jadwal pengembalian pinjaman ke platform P2P lending.

8. Investor P2P lending menerima dana pengembalian pinjaman dari borrower melalui platform.

 

Fintech P2P lending dapat menjadi pilihan bagi mereka yang membutuhkan pinjaman dengan bunga rendah. Selain itu, proses pengajuannya pun tidak rumit.


(Reporter: Muhammad Fauzan)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.