Waswas Pelaku Usaha karena Konflik Iran-Israel

Konflik yang makin memanas di Timur Tengah dikhawatirkan dapat menaikkan berbagai harga sehingga mengancam ekonomi di Tanah Air.

Afiffah Rahmah Nurdifa

16 Apr 2024 - 14.22
A-
A+
Waswas Pelaku Usaha karena Konflik Iran-Israel

Warga berbelanja di toserba. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis, JAKARTA – Pelaku usaha was-was atas konflik yang terjadi di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Israel. Biaya produksi industri nasional diprediksi akan melonjak.

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S. Lukman mengatakan bahwa konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah dapat mendongkrak harga bahan baku, energi, hingga ongkos perdagangan ke pasar tujuan ekspor.

"Kami khawatir dampak ke harga bahan baku dan energi juga biaya logistik yang naik ke depannya," kata Adhi kepada Bisnis, Senin (15/4/2024).

Baca juga: Menangkap Potensi Ekonomi Parekraf Rp400 Triliun kala Momentum Lebaran

Adhi menjelaskan bahwa kondisi tersebut juga mulai berdampak pada keterlambatan pasokan karena angkutan logistik terganggu. Hal ini cepat atau lambat akan memicu ketidakpastian global hingga krisis ekonomi.

Senada, Ketua Umum Forum Industri Pengguna Gas Bumi Yustinus Gunawan mengatakan eskalasi perang Timur Tengah akan mengganggu rantai pasok industri hingga pasokan energi.

"Walaupun saat ini pelaku industri belum melihat dampak langsung serangan Iran ke Israel, internal masing-masing industri otomatis pasti memperkuat daya saing, dengan efisiensi dan optimalisasi utilisasi, sambil membaca peluang pasar alternatif," tuturnya, dihubungi terpisah.

 

 

Yustinus menilai pemerintah harus memperkuat kebijakan yang terbukti efektif selama disrupsi ekonomi global semasa pandemi dan terus terbukti ampuh ketika konflik Rusia- Ukraina berlangsung, seperti kebijakan harga gas bumi tertentu (HGBG) untuk industri.

Dalam hal ini, HGBT dinilai terbukti mendukung terbentuknya resiliensi industri, yang terindikasi dari ekspansifnya industri manufaktur dengan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur RI yang terus ekspansif di atas level 50 selama 31 bulan berturutan.

Baca juga: Iran-Israel Berperang, Industri Cemas Harga Bahan Baku Terbang

Pelaku industri mengaku sangat mengharapkan penguatan kebijakan HGBT dengan harga gas murah sebesar US$6/MMBTU at plant gate yang harus sesegera mungkin dikonfirmasi kelanjutannya oleh Pemerintah.

Kebijakan tersebut dapat mengurangi kekhawatiran pelaku industri akan ongkos produksi yang membengkak lantaran sentimen negatif konflik Timur Tengah yang juga perlahan memengaruhi harga bahan baku yang diimpor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.