Wow, Aplikasi Kencan Bumble PHK 350 Karyawan

Aplikasi kencan Bumble bakal melakukan PHK terhadap 350 orang karyawannya. Hal ini seiring terjadinya penurunan penjualan termasuk rencana penggunaan teknologi yang lebih masif.

Rinaldi Azka

29 Feb 2024 - 14.50
A-
A+
Wow, Aplikasi Kencan Bumble PHK 350 Karyawan

Aplikasi kencan Bumble./Tangkapan Layar Playstore

Bisnis, JAKARTA - Perusahaan aplikasi kencan, Bumble Inc. bakal melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga 350 orang secara global. Hal ini seiring upaya efisiensi perusahaan di tengah penjualan yang melambat dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan.

Saham Bumble Inc. jatuh ke titik terendah sepanjang masa setelah perusahaan mengumumkan prospek penjualan yang lebih lemah dari yang diperkirakan, menekankan kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan pengguna di industri kencan online AS. Perusahaan juga akan mengurangi sekitar sepertiga dari jumlah karyawan setelah perombakan eksekutif baru-baru ini dan perbaikan aplikasi.

Mengutip Bloomberg, Kamis (29/2/2024), perusahaan yang berbasis di Austin ini akan menghapus sekitar 350 peran kerja secara global. Demikian disampaikan pada Selasa (27/2/2024) saat melaporkan hasil kuartalan. 

Chief Executive Officer Bumble Lidiane Jones menjelaskan pengurangan jumlah karyawan ini akan membantu mengkonsolidasikan tim teknik dan produk di lokasi yang lebih sedikit dan mempercepat pengambilan keputusan sehingga perusahaan dapat memprioritaskan kecerdasan buatan dan fitur keamanan. Bumble memiliki lebih dari 950 karyawan penuh waktu pada akhir 2022, di mana sekitar 770 di antaranya berlokasi di luar AS.

Baca Juga : Produksi Kendaraan Jepang Anjlok Tandai Pelemahan Ekonomi Lebih Lanjut 

Perusahaan memperkirakan akan mengalami biaya tambahan non-recurring sekitar US$20 juta hingga US$25 juta sebagai hasil dari pemutusan hubungan kerja. Lebih jauh, Bumble akan menghemat sekitar $55 juta setiap tahun dari pemotongan pekerjaan.

"Kami berharap melakukan investasi ulang secara selektif sekitar US$15 juta dalam area produk, teknik, keamanan, dan merek yang akan membantu mendorong pertumbuhan jangka panjang," kata Chief Financial Officer Bumble Anuradha Subramanian.

Bumble juga memberikan perkiraan pendapatan dalam kuartal ini sebesar US$262 juta hingga US$268 juta, kurang dari perkiraan rata-rata analis sebesar US$277,6 juta. Pada kuartal keempat 2023, pendapatan Bumble mencapai US$273,6 juta, juga meleset dari perkiraan. Harga sahamnya jatuh hingga 11% menjadi titik terendah sepanjang masa sebesar US$11,72 pada Rabu (28/2/2024) saat pasar dibuka di New York.

Tangkapan layar situs aplikasi kencan Bumble.com./Istimewa

Bumble App Melambat

Bumble sedang mengalami pergeseran organisasional setelah pendiri Whitney Wolfe Herd mengumumkan pada November bahwa dia akan mundur sebagai CEO dan beralih ke peran Kepala Eksekutif. Adapun, Jones, yang bergabung dari Slack Technologies milik Salesforce Inc. pada Januari, bergabung menjadi bagian dari empat eksekutif baru di Bumble, termasuk dua orang baru dari organisasinya yang telah bergabung lebih dahulu.

"Tim baru tersebut akan mengawasi perombakan besar-besaran aplikasi kencan pada kuartal kedua 2024, yang pertama kalinya dalam dua tahun, untuk menciptakan daya tarik yang lebih kuat bagi pengguna muda," ungkap Jones. 

Baca Juga : Melawan Dominasi Global: RI di Depan 'Perang' Moratorium Bea Masuk Digital di WTO 

Perusahaan ingin menghidupkan kembali pertumbuhan subscriber yang melambat, yang telah mereka lihat sejak akhir 2021, karena banyak fitur produk yang diperkenalkan dalam 18 bulan terakhir telah melambatkan kinerja aplikasi secara keseluruhan dan membuat pengalaman pengguna menjadi berantakan. 

Fitur terbaru berupa "Premium Plus" yang diluncurkan pada Desember 2023, tidak membawa peningkatan tambahan yang diharapkan perusahaan dan juga akan direvitalisasi. Adapun, populasi pengguna aktif Bumble saat ini sedang mengalami transisi generasi yang dengan wajar berharap lebih banyak dari pengalaman kencan mereka.

Rival aplikasi kencan Match Group Inc. juga telah melihat tren pengguna yang tidak menguntungkan di merek terbesarnya, Tinder, dengan jumlah pengguna berbayar yang menyusut selama lima kuartal berturut-turut ketika melaporkan hasil pada Januari 2024. Perusahaan juga telah mendapat tekanan dari investor untuk memberikan perubahan produk, dan perusahaan mengatakan bahwa mereka berharap untuk kembali ke pertumbuhan pengguna di paruh kedua tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.