IHSG Melemah, Saham TLKM Tetap Diburu Asing

IHSG berpeluang melemah dan diperdagangkan di level 6.650-6.730.

Aprianto Cahyo
26 Nov 2021 - 02.57
A-
A+
IHSG Melemah, Saham TLKM Tetap Diburu Asing

Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (29/6/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani

Bisnis, JAKARTA - Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengawali perdagangan di zona merah pada hari ini, Jumat (26/11/2021). Meski begitu, sejumlah saham BUMN masih jadi incaran investor asing. 

Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip dari Bisnis.com, indeks acuan melemah 0,16 persen atau 10,78 poin ke level 6.688,57 pada sesi preopening. Pada pukul 09.05 WIB, indeks terpantau melemah 0,46 persen atau 29,47 poin ke 6.667,05.

Sebanyak 147 saham menguat, 225 saham melemah dan 192 saham bergerak di tempat. Sementara itu, investor asing membukukan aksi beli bersih sebesar Rp19,74 milir.

Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) paling banyak dibeli investor asing pada pagi ini dengan nilai hingga Rp71,6 miliar. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga menjadi incaran asing dengan nilai beli bersih sebesar Rp2,8 miliar, dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) sebesar Rp2,3 miliar.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, sebelumnya mengatakan sektor transportasi dan logistik, infrastruktur, industri, kesehatan, keuangan, energi, dan industri dasar mendominasi penguatan IHSG kemarin. Selain itu, investor asing di seluruh pasar membukukan pembelian bersih sebesar Rp48 miliar.

Meski begitu, dia menyebut IHSG berpeluang melemah secara teknikal dan diperdagangkan di level 6.650-6.730 pada akhir pekan ini. Saham yang menjadi rekomendasi Pilarmas Investindo Sekuritas yaitu KKGI dan MSIN.

Lebih lanjut, Nico menyebut sentimen datang dari Gubernur Bank Sentral Korea Selatan Lee Ju Yeoi yang menaikkan tingkat suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan Kamis (25/11/2021) kemarin. Lee Ju Yeoi mengatakan pengetatan lanjutan mungkin akan kembali terjadi karena adanya risiko inflasi yang terus meningkat dalam pemulihan ekonomi.

Bank Sentral Korea merevisi inflasi 2,3 persen untuk tahun ini dan 2 persen untuk tahun 2022. "Ada potensi harga akan mengalami kenaikan sesuai dengan target yang ditetapkan," ujar Nico dalam risetnya, Jumat (26/11/2021).

Sementara dari dalam negeri, Nico mengatakan akselerasi pertumbuhan teknologi dinilai dapat mempercepat proses pemulihan industri. "Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 akan mencapai 4,7 persen hingga 3,2 persen," katanya.

Editor: Febrina Ratna Iskana

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar