Masa Depan Cerah Startup Agrobisnis

Agritech menjadi salah satu segmen industri yang penting karena melekat erat dengan Indonesia. Pertanian memakan hampir sepertiga dari penggunaan lahan dan tenaga kerja nasional. Untuk itu, keberadaan teknologi sangat dibutuhkan guna membantu industri ini agar punya produktivitas yang baik.

May 11, 2021 - 6:43 AM
A-
A+
Masa Depan Cerah Startup Agrobisnis

Ilustrasi TaniHub./dok. TaniGroup

Bisnis, JAKARTA — Inovasi teknologi perusahaan rintisan (startup) di bidang agrobisnisdinilai makin mendesak. Sebab, untuk bisa menangkap peluang Lebaran 2021, para pemain harus memahami pasar secara cepat dan tepat.

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan terdapat tiga inovasi teknologi yang dibutuhkan pelaku industri agritech saat ini, yaitu internet untuk segala atau internet of things (IoT), kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI) dan analitik mahadata atau big data analytics.

“Ketiga teknologi ini memberikan kontribusi lebih dari sisi pengembangan agrobisnis agar terintegrasi untuk melihat kondisi existing, kebutuhan pasarm, dan apa yang dapat dilakukan dalam memenuhi kebutuhan pasar yang berbeda di Nusantara ini,” ujar Heru saat dihubungi, awal pekan ini.

Lebih lanjut, dia tak menampik anggaran untuk mengadopsi AI dan mahadata memang tergolong besar. Namun, dengan teknologi tersebut, investasi ke depan justru akan terasa kecil.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani menambahkan peran kecerdasan buatan dan mahadata sangat penting untuk kelangsungan kualitas bisnis, optimasi yield, serta kecepatan sertifikasi dalam skala besar.

“Peran serta perangkat IoT dan otomatisasi tentu membuat pekerjaan rutin bisa dilakukan oleh mesin. Momentum Lebaran bisa meringankan beban para petani di lapangan untuk bisa berkumpul dengan keluarga,” katanya.

Sementara itu, dia melanjutkan analitik juga bisa bermanfaat bagi petani karena pelaku agritech mereka dapat melakukan pengumpulan data secara waktu riil (real time) untuk mengedukasi waktu pemberian nutrisi dan pengairan bisa dilakukan secara jarak jauh dan otomatis melalui sistem.

Berdasarkan data Statista, pasar mahadata dan analisis bisnis global bernilai US$169 miliar pada 2018 dan diperkirakan tumbuh menjadi US$274 miliar pada 2022. Sementara itu, pasar AI global diperkirakan tumbuh pesat dan mencapai sekitar US$126 miliar pada 2025.

Salah satu merchant Tanihub yang bekerja sama dengan Boost Indonesia./Istimewa

AKSELERATOR

Sementara itu, perusahaan rintisan di bidang agritech juga dinilai mampu menjadi akselerator Pertanian 4.0 sepanjang 2021.

Sekadar catatan, Pertanian 4.0 adalah kegiatan agrobisnis dengan ciri pemanfaatan teknologi AI, robotisasi, IoT, pesawat nirawak (drone), dan big data analytic untuk menghasilkan produk unggul, presisi, efisien, dan berkelanjutan.

Pengamat telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Joseph Matheus Edward mengatakan teknologi seperti IoT memiliki kontribusi sebagai sensor, analitik mahadata untuk pemetaan kinerja perusahaan, dan kecerdasan buatan sebagai alat untuk menganalisis dan pengambil keputusan dalam agribisnis.

Agritech menjadi salah satu segmen industri yang penting karena melekat erat dengan Indonesia. Pertanian memakan hampir sepertiga dari penggunaan lahan dan tenaga kerja. Keberadaan teknologi sangat dibutuhkan untuk membantu industri ini agar punya produktivitas yang baik.” 

Dia memerinci terdapat beberapa startup yang bermain di pengembangan teknologi di antaranya ada Habibi Garden, BIOPS, HARA, dan JALA.

Masing-masing punya spesialisasi teknologi dalam pengumpulan data, petani dapat menerjemahkan dengan bahasa sehari-hari dan bisa langsung ambil tindakan.

JALA misalnya, menggunakan serangkaian sensor untuk mendeteksi kualitas air dalam kolam tambak udang, salinitas, dan keasaman terhadap kandungan oksigen. Data dikirim ke media analisis berbasis komputasi awan (cloud) yang kemudian memberikan saran untuk meningkatkan kualitas air.

“[Inovasi] yang pasti ke depan pemain harus adopsi sensor atau IoT, dengan sistem jaringan handal. Sebab, big data dan AI dapat melakukan profiling dan analisis kebiasaan, sehingga barang apa yang akan dijual sesuai dengan keinginan,” jelasnya.

Bahkan, klaim Ian, perusahaan dapat menganggarkan investasi teknologi sebesar kurang dari 10%, dengan return of investment (RoI) 70% terhadap kesuksesan bisnis mereka.

Startup agrobisnis, Eden Farm, mengamini analitik mahadata dan kecerdasan buatan mendukung pertumbuhan bisnis mereka dengan signifikan.

Founder & CEO Eden Farm, David Setyadi Gunawan mengatakan informasi analitik mahadata yang mereka kombinasikan dengan analisa kualitatif dari tim perusahaan membantu strategi perencanaan pengadaan produk dan juga strategi penjualan.

“Semua teknologi yang kita terapkan sangat membantu untuk melakukan perencanaan terutama di momentum lebaran ini, Eden Farm terus mengalami pertumbuhan penjualan hingga minggu terakhir bulan puasa,” ujar David.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa perusahaan juga sedang menjajaki penggunaan IoT untuk mendukung pertumbuhan di sisi hulu, dengan tujuan mendorong produktivitas petani binaan Eden Farm. Bahkan, perusahaan biasanya mengalokasikan 30% untuk inovasi teknologi.

“Bagi Eden Farm, teknologi merupakan komponen perusahaan yang sangat penting dan sangat menunjang proses bisnis. Eden Farm mengalokasikan 30% dari total bujet tahunan untuk pengembangan teknologi dari hulu sampai hilir,” ujarnya.

Layanan Sayurbox./istimewa

AKURASI DATA

Lain cerita, Tanihub menargetkan akurasi data perusahaan hingga 95% untuk kebutuhan operasional bisnis mereka.

Chief Technology Officer Tanihub Group Kelvin Wijaya mengatakan teknologi analitik maha data, pembelajaran mesin, dan kecerdasan buatan membantu mereka untuk memahami pemangku kepentingan, petani, dan konsumen dengan lebih baik.

“Kami ingin sistem kami punya akurasi hingga 95% dan kami terus mengembangkan teknologi kami untuk menghindari dan meminimalisir anomali yang ada. Bahkan, sekitar 1/6 sampai 1/5 anggaran kami gunakan untuk mengembangkan teknologi kami,” ujar Kelvin.

Menurutnya, penerapan teknologi dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing petani dengan mensintesis potensi dan mekanisme pertumbuhan teknologi digital untuk sektor pertanian di dalam negeri.

“Kegunaan teknologi tersebut ada banyak, salah satunya peramalan dan kedua adalah untuk operasional dalam arti adalah untuk automasi dan optimasi. Kalau forecast kami berusaha melihat situasi pasar di Indonesia yang lumayan kompleks dengan datanya,” katanya.

Menurutnya, peran data juga memberikan efisiensi untuk mengukur kecepatan proses performa dan proses konsolidasi yang perusahaan perlukan di lapangan agar kedua proses tersebut bisa saling mengisi satu sama lain.

Namun, tidak hanya berhenti di sana, Kelvin melanjutkan bahwa ke depan mereka ingin berfokus untuk mengadopsi teknologi lainnya, khususnya yang berhubungan dengan sisi hulu.

“Kami ingin fokus ke upstream seperti computer vision baseimage processing base, atau IoT base. Bahkan, setelah lebaran kami ingin bekerja sama dengan pemain IoT,” kaya Kelvin.

Sementara itu, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) tak ketinggalan merilis Agree, sebuah aplikasi agregator agribisnis untuk mencetak petani yang melek digital.

CEO & Product Manager Agree Baskara Widhi mengatakan perbedaan Agree dengan pemain lain yang tidak hanya bermain di sisi hulu (pendanaan) atau hilir (lokapasar).

Namun, berada di tengah-tengahnya, yakni penyedia platform ekosistem kemitraan agribisnis, sehingga potensial diserap pasar lebih luas.

"Aplikasi Agree bisa memantau proses pembiayaan dan transaksi para pelaku agribisnis. Data ini yang kemudian bisa dimanfaatkan dengan sinergi BUMN, seperti Bank Mandiri. Semuanya terekam di sistem, sehingga memudahkan pengambilan keputusan," katanya.

Dia mengatakan saat ini terdapat 15.000 pendaftar dengan pengguna aktif di kisaran 1.000 mitra petani yang memanfaatkan layanan dari Agree untuk memantau proses agribisnis, seperti pendaftaran kemitraan, pencatatan aktivitas budi daya, pengajuan modal, dan transaksi ke offtaker/pembeli grosir.

"Saat ini, layanan kami ada di 30 sentra pertanian Indonesia, mulai dari Sumatera Utara, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Kami dalam waktu dekat akan perluas ke Garut untuk komoditas cabai, Malang untuk kopi, dan Tange Aceh juga untuk kopi," ucapnya.

Tidak hanya itu, dia menyebutkan Telkom menargetkan perluasan hingga 35 titik sentra pertanian di seluruh Indonesia sampai pertengahan 2021.

Selain memperluas layanan Agree di berbagai titik, Baksara mengatakan ke depannya akan menerapkan sistem berbagi hasil per transaksi maupun biaya berlangganan kepada offtaker.

Namun, dia melanjutkan untuk saat ini fokus mereka adalah memperkenalkan aplikasi. Sebab, belum semua petani, peternak, dan pekebun merubah pola aktivitasnya.

Agree dari Telkom akan berfokus di digitalisasi, Bank Mandiri dari sisi pembiayaan, pupuknya dari PT Pupuk Indonesia, dan hasil panen nanti akan dijual ke Mitra Desa Pamarican, anak usaha dari BUMN PT Mitra BUMDes Nusantara.

Dia melanjutkan bahwa Agree memiliki fitur andalan berupa layanan Agree Partner yang memungkinkan memantau proses pertanian dari hulu ke hilir. Ada pula fitur Agree Modal terkait pengajuan permodalan ke Bank, dan Agree Market untuk memfasilitasi penjualan pertanian.

“Lewat aplikasi agregator agribisnis Agree, Telkom siap cetak petani modern yang melek teknologi, sehingga bisa meraup cuan,” ujarnya. (Akbar Evandio)

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar