Tak Lagi Bebas Pajak, Segmen LCGC Masih Menarik

Mobil harga terjangkau dan ramah lingkungan alias low cost and green car mengalami penciutaan pangsa pasar sepanjang tahun ini. Meski demikian, segmen mobil ini diyakini masih manjanjikan.

Fatkhul Maskur
Nov 22, 2021 - 6:08 AM
A-
A+
Tak Lagi Bebas Pajak, Segmen LCGC Masih Menarik

Toyota Agya - Bisnis.com

Bisnis, JAKARTA – Mobil harga terjangkau dan ramah lingkungan alias low cost and green car mengalami penciutaan pangsa pasar sepanjang tahun ini. Meski demikian, segmen mobil ini diyakini masih manjanjikan.

Segmen pasar low cost and green car (LCGC) diisi oleh lima merek, mencakup Daihatsu (Ayla dan Sigra), Datsun (Go, Go+), Honda (Brio), Suzuki (Karimun Wagon R), dan Toyota (Agya, Cayla). 

LCGC adalah program pemerintah yang mengatur tentang kendaraan harga ekonomis serta ramah lingkungan. Tujuannya mengembangkan kendaraan harga terjangkau bagi kalangan menengah ke bawah, serta bermesin ramah lingkungan. 

Umumnya, mobil LCGC dibanderol pada kisaran tak melebihi Rp170 juta, dengan spesifikasi dasar yang telah ditentukan pemerintah. Mobil ini bebas pajak penjualan barang mewah (PPnBM) hingga 16 Oktober 2021.

Kebijakan ini dimulai pada 2013, yang ditandai terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) No. 41/2013 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Barang Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah. 

Berdasarkan ketentuan ini, LCGC bebas PPnBM. 

Toyota dan Daihatsu menangkap peluang ini dengan merilis dua mobil KBH2 pertama, yakni Daihatsu Ayla dan Toyota Agya. Honda dan Suzuki menyusul dengan meluncurkan Honda Brio Satya dan Suzuki Karimun Wagon R tak lama kemudian.

Belakangan, Nissan juga mengikuti program tersebut dengan menghadirkan model Datsun Go. 

Selain lebih ramah lingkungan karena bermesin kecil sehingga hemat bahan bakar, mobil ini juga ramah kantong lantaran harganya terjangkau. Mobil ini membidik segmen pembeli pemula.

Pada tahun pertama atau sepanjang enam bulan terakhir 2013, LCGC membukukan penjualan 51.180 unit atau mengontribusi pasar otomotif sebesar 4%. Pada tahun kedua, model ini mencatatkan penjualan 172.120 unit atau mengontribusi sebesar 14%. 

Pasar mobil ini terus mengembang. Sebelum pandemi Covid-19, LCGC mencatatkan penjualan 217.454 unit (21,1%). Pada 2020, saat pandemi Covid-19, penjualan model ini turun ke angka 116.475 unit. Akan tetapi, pangsa pasarnya justru sedikit meningkat menjadi 21,9%.

Pada 2021 hingga September, LCGC mencatatkan penjualan 104.585 unit, dengan pangsa pasar 16,7%. Pada saat yang sama, program insentif bebas PPnBM atas LCGC yang diberikan sejak 2013 berakhir pada 16 Oktober 2021.

Hal tersebut sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 73 tahun 2019. Aturan yang diundangkan pada 16 Oktober 2019 ini berlaku dua tahun setelah ditetapkan atau 16 Oktober 2021. 

Pada Pasal 25 PP 73/2019, LCGC dikenakan tarif PPnBM sebesar 15%, dengan Dasar Pengenaan Pajak (DPP) sebesar 20% dari harga jual. Secara sederhana Honda Brio Satya dan kawan-kawan akan kena pajak barang mewah sebesar 3%.

MASIH MENJANJIKAN

PT Toyota Astra Motor (TAM) menilai Low Cost Green Car (LCGC) masih menjanjikan pada tahun mendatang.

Direktur Marketing PT TAM Anton Jimmi Suwandy mengatakan Toyota Agya per bulan terjual sekitar 2.000 unit, Toyota Calya di angka sekitaran 4.000 unit. Jika dijumlahkan, maka penjualan berada di kisaran 5.000 atau 6.000 unit per bulan sehingga dalam 10 bulan ini sudah terjual 23.000 unit.

"Saya rasa lihat kontribusi demografi, LCGC masih salah satu model yang disukai pembeli mobil pertama. Jumlahnya masih cukup besar," ujar Anton dalam sesi virtual conference, Sabtu (20/11/2021.

Toyota memastikan untuk memberikan banyak pilihan, termasuk LCGC, sehingga pengembangan produk akan jalan terus ke depannya.

Sementara itu, PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) menyatakan bahwa produksi unit low cost green car (LCGC) Karimun Wagon R untuk pasar dalam negeri resmi dihentikan. Dengan demikian, berakhir sudah perjalanan Karimun setelah lebih dari 20 tahun mewarnai persaingan city car atau mobil kecil di Tanah Air.

MODEL BARU

Menurut 4W Marketing Director PT SIS Donny Saputra, Karimun Wagon R saat ini hanya diproduksi untuk pasar luar negeri atau ekspor. Seperti diketahui, Karimun Wagon R yang diproduksi di Tambun, Bekasi, Jawa Barat merupakan tulang punggung ekspor SIS secara completely built-up (CBU). 

Walaupun demikian, konsumen di Indonesia saat ini masih bisa mendapatkan Karimun Wagon R di beberapa dealer Suzuki. Sebabnya, masih ada dealer yang memiliki stok mobil tersebut dalam jumlah terbatas.

Selain itu, Suzuki tampaknya tak akan meninggalkan segmen empuk ini. Spesialis mobil kecil asal Jepang ini akan menghadirkan model S-Presso akhir tahun ini.

Bagi Suzuki, mobil mungil ini memang bukan sesuatu yang baru mengingat model ini sudah diedarkan Maruti Suzuki di India dan Filipina. Harganya pun lebih miring dari Karimun Wagon R.

Pasar LCGC memang masih menjanjikan. Sayang kalau ditinggalkan. (Khadijah Shahnaz, Rezha Hadyan)

Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar